Seperti dalam buku harianku, kini aku akan menceritakan dan mengungkapkan semua yang ku inginkan dan ku dambakan sejak dulu. Atau ku sebut dengan cita-citaku. Akan ku tuliskan seluruh usaha yang ku lakukan dan sesuatu yang membuat aku sulit untuk menjadikan mimpiku menjadi kenyataan. Inilah kisahku, dalam menggapai dan meraih mimpi-mimpiku.
Sejak kecil, ibuku sering menitipkanku di rumah nenekku lalu meninggalkanku. Ilmi kecil bingung, apa yang dilakukan ibunya hingga menjelang maghrib sampai-sampai meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama ?. Saat pulang, ibu selalu dalam keadaan letih. Walau seperti itu, ibu selalu menampilkan senyuman dan tawanya kepada anaknya yaitu aku sendiri. Hingga di suatu malam, aku menanyakan semua yang kupertanyakan sejak dulu. Ku dengar suara ibu yang lembut menjawab hanya dengan satu kata “guru”. Beliau menjelaskan, menjadi guru itu sangatlah banyak memperoleh manfaat. Selain itu, ini adalah pekerjaan yang penuh dengan tanggung jawab dan rasa ikhlas. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang merelakan hari-harinya dan menyisihkan waktunya demi mendidik murid-muridnya. Guru mengajarkan dan mentransfer seluruh ilmunya yang ia ketahui kepada murid-muridnya. Namun, apakah menjadi seorang guru juga harus merelakan waktu untuk anaknya sendiri ?. Dengan tidak menyisakan waktu untuk anaknya sendiri ?. Ibuku menjawab, “Saat inipun ibu sedang menjadi guru untukmu anakku”. Beliau mengelus-elus rambutku, hingga aku tertidur lelap. Aku mulai mengerti, ibu selalu melaksanakan kedua tugasnya yaitu, menjadi guru yang baik untuk anak didiknya di sekolah tempat mengajarnya dan menjadi seorang ibu yang amat penyayang untukku. Dan mulai saat itu, akupun mengerti bahwa guru bukanlah harus mengajar di sekolah atau mendidik anak murid di suatu tempat mengajar tetapi, mengajarkan apapun yang telah kita ketahui kepada siapapun dan di manapun, itu sudah dapat disebut dengan menjadi seorang “guru”. Saat aku duduk di Taman Kanak-Kanak, tepatnya di TK Al-Qudwah. Guruku sering menanyakan cita-cita yang didambakan oleh anak muridnya, termasuk aku. Ketika bu Erlin guruku yang baik itu menanyakan cita-cita apa yang kudambakan, sebelum menjawabnya, aku selalu menatap kedua matanya yang berbinar dan mengingat jasa-jasanya juga kasih sayangnya kepadaku, dengan suara lantang dan pasti namun sopan aku menjawab, “guru”. Begitu pula saat aku duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Bu Yati ialah guru terbaik yang pernah ku kenal saat itu. Ketika ia menanyakan cita-citaku aku juga menjawab, “guru”. Namun, aku kecewa saat aku duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, aku mengenal seorang guru yang amat buruk perilakunya. Bagiku, tak pantas beliau untuk menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Pada saat itu aku berjanji, aku akan menjadi guru yang baik untuk seluruh anak didikku nanti, yang akan memberi contoh baik dan teladan yang baik kepada seluruh anak didikku nanti. Tidak seperti guruku saat itu.
Sampai sekarang aku duduk di kelas dua SMP, aku pun masih selalu berharap dan bercita-cita ingin menjadi seorang guru teladan yang baik. Tak pernah aku memikirkan hal lain dalam benakku. Walau ku tahu, menjadi guru itu penghasilannya kurang sepadan dengan pekerjaannya yang cukup berat dan penuh tanggung jawab. Namun, itu tak menggugah semangatku untuk meraih impianku menjadi seorang guru seperti ibuku.
Aku adalah tipe orang yang selalu bermimpi dan bercita. Seperti dalam buku yang kubaca karangan salah satu penulis idolaku, yaitu Andrea Hirata. Dalam bukunya yang berjudul Edensor, Arai mengatakan “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Ini sungguh kata-kata yang menggugah motivasi dan semangatku dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, aku selalu berusaha agar aku dapat meraih mimpi-mimpiku. Tak lupa juga dengan disertai do’a kepada Sang Ilahi Robbi. Aku akan melakukan apapun yang ku bisa untuk mencapai dan meraih impianku. Usaha yang telah dan yang sedang kulakukan saat ini ialah, aku selalu berusaha meraih prestasi yang baik di sekolah, di mata guru dan orang tuaku juga seluruh orang yang mengenalku. Meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang, ini kulakukan dengan cara belajar dan terus belajar. Balajar dari semua pengalaman dan kegagalanku, itulah yang menjadi kunci utamaku menuju keberhasilan. Dengan cara itu, aku dapat mengetahui dan memperbaiki seluruh kekurangan juga kesalahanku di masa lalu. Belajar dari kelebihan dan kemampuan juga keberhasilan seseorang, itu juga selalu kulakukan. Karena dengan cara itu, aku dapat mengetahui dan mencontoh cara mereka dalam meraih kesuksesan. Aku juga selalu membaca buku yang memberi motivasi dan inspirasi untukku. Dan terkadang, aku juga sering meminta pendapat orang lain akan sesuatu yang kulakukan, baik ataukah buruk itu, terutama masukan dari kedua orang tuaku. Semua itu kulakukan demi menggapai angan dan citaku.
Kemalasan ialah salah satu hal yang wajar dan sering terjadi dalam proses belajar. Akupun sering mengalaminya. Namun, aku terus berusaha untuk menghilangkan penyakit malas belajar tersebut dari diriku. Dengan cara mencoba dan mencoba hingga pada akhirnya kebiasaan malas tersebut hilang dengan sendirinya. Inilah salah satu hambatan yang ku alami. Dan terkadang ada sesuatu hal yang tak penting dalam pikiranku yang mengganggu konsentrasi belajarku. Contohnya, memikirkan masalah keluarga ataupun masalah dengan lawan jenis. Masalah ini termasuk masalah yang tak terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi, hingga pada suatu saat ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku. Orang tuaku bilang, guru tidaklah harus dijadikan cita-cita atau impian. Mereka berusaha menyekolahkanku hingga perguruan tinggi bukan hanya untuk menjadikanku seorang guru, melainkan mereka juga menginginkanku bekerja menjadi dokter atau apoteker atau apapun yang berhubungan dengan bidang kesehatan. Bapakku bilang, tak usahlah aku menjadi seorang guru di sekolah tempat mengajar, aku bisa menjadi guru untuk adik-adikku dan seluruh teman-temanku juga banyak orang di luar sana. Guru bukanlah cita-cita. Semua orang yang memiliki atau telah menguasai sesuatu ilmu pengetahuan, haruslah dan diwajibkan untuk mengajarkannya lagi kepada orang lain. Jadi, semua orang di dunia ini bisa menjadi guru. Oleh karena itu tak usahlah aku bercita-cita menjadi guru, karena semua orang memiliki kewajiban untuk menjadi guru untuk orang lain. Itulah yang dikatakan oleh orang tuaku. Hingga aku sadar bahwa guru bukanlah cita-cita, melainkan memang sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menjadi guru, mengajarkan semua yang kita ketahui kepada orang lain.
Kerasnya sifatku membuatku tetap pada pendirianku, untuk menjadikan guru sebagai cita-citaku. Karena bagaimanapun juga, setiap orang belum tentu dapat atau bisa menyampaikan atau mengajarkan kembali apa yang diketahuinya, bukan ?. Lagipula, guru itukan pekerjaan yang mulia. Oleh sebab itu, aku akan tetap menjadikan guru sebagai impian dan citaku. Aku akan mengikuti saran dari kedua orang tuaku, aku akan menjadi dokter atau apoteker atau apapun yang berhubungan dengan bidang kesehatan seperti yang mereka harapkan, aku tak mau mengecewakan mereka berdua. Akan tetapi, aku juga tetap akan menjadi guru untuk semua orang yang ada di sekelilingku. Sekarangpun aku bisa menjadi seorang guru, guru untuk ke tiga adik perempuanku. Dengan cara inilah aku akan tetap mencapai impianku menjadi seorang guru, meski aku juga bekerja menjadi dokter atau pekerjaan lainnya. Dan di suatu saat nanti, aku akan menjadi guru untuk anak-anakku.






daryan
14 Mei 2009 at 5:20 pm05
jangan menyerah karena kegagalan,kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. terus berjuang tuk menggapai semua impian-impianmu….
anna fauzian
14 September 2010 at 5:20 am09
bermimpilah, dan katakan “impianku, maaf aku tdk bisa berhenti!!!!”