Saya berasal dari SDN Komplek Kejaksaan. Saat SD saya tidak pernah diikutsertakan dalam lomba apapun, hanya kelas “unggulan”lah yang diikutsertakan dalam setiap perlombaan. Jujur,, saya sebagai siswi dari kelas B kesal dengan perlakuan yang tak adil itu. Dalam pikiran saya, “Belum tentu ‘kan anak unggulan lebih baik dari kami anak kelas lain?? Kenapa kami, siswa/siswi kelas lain tidak dihargai ?!!”. Itulah jeritan hati saya dengan dipenuhi sikap optimis.
Setelah ujian, saya mendaftar di SMPN 1 Rangkasbitung. Ini karena kemauan saya bukan karena paksaan orang lain atau karena ibu saya mengajar disana, tapi ini 100% keinginan saya. Saya masuk dengan “danem” 25,50. Saya masuk peringkat 17 dari beratus anak yang mendaftar. Itu artinya saya masuk kelas unggulan “A”. Pertama kalinya saya masuk kelas terbaik dan yang paling dihargai. Saya sekelas dengan beberapa anak kelas unggulan saat di SD. Beberapa di antaranya dikenal pintar,, namun yang ku tahu anak unggulan itu “banyak yang sombong”. Ya, itu benar. Anehnya, di SMP mereka mulai mendekati saya, dan akhirnya kami sangat akrab dan berteman baik sampai sekarang. Semua jeritan hati saya saat di SD terbukti dengan nilai prestasi saya, di semester satu saya mendapat peringkat pertama begitu pula di semester dua. Hati saya lega namun tetap tak puas. Hingga tak disangka di kelas duapun saya mendapat peringkat pertama. Tapi, saya tetap tak puas. Semakin tinggi prestasi saya semakin saya ingin meraih yang lebih tinggi lagi. Read the rest of this entry »





